Ketika Kita Difitnah

Sebab ikhlas itu tak terucap,

dan sabar itu tak berujung.

Ada banyak hal di dunia ini yang tidak mungkin bisa kita kendalikan, salah satunya (maaf): mulut orang lain. Ini serius. Ada orang yang di depan kita tampak ramah, tidak tahu nanti di belakang kita seperti apa. Sebagaimana kata Imam Al-Ghazali bahwa apa yang paling tajam di dunia ini? Ya lidah. Sayangnya memang tidak ada sekolah khusus ‘senam’ lidah.

Apa-apa yang keluar dari lisan orang lain sepenuhnya menjadi kendali mereka sendiri. Maka kita pun tidak perlu berharap banyak kepada siapa saja untuk selalu membicarakan kebaikan kita. Soalnya memang orang lain melihat diri kita tidak hanya baiknya saja. Bisa jadi mereka juga melihat—atau menilai—ada sesuatu yang tidak baik di diri kita. Sepenuhnya kita rela dan belajar untuk menerima omongan orang lain.

Pertama, seseorang membicarakan keburukan kita kepada temannya, lalu temannya bilang ke kita. “Kata dia, kamu itu begini, begini, begini lho.”

Kira-kira apa jawaban kita? Kalau memang apa yang dibicarakan itu nyata adanya, ya sudah jawab saja, “Oh iya, memang apa yang dia bilang itu benar semua. Ya aku juga manusia kan tidak sempurna.”

Kedua, seseorang yang membicarakan keburukan kita, tetapi ada yang benar dan ada yang tidak benar (salah). “Eh, kata dia, kamu itu orangnya begini dan begitu, lho.”

Kalau memang ada yang benar, kita jawab, “Ya memang aku seperti itu.” Sedangkan untuk omongan yang tidak benar, kita bisa mengatakan, “Aku pasti akui kok kalau aku tidak selalu jadi manusia yang baik, tapi ada bagian yang dia bicarakan itu tidak benar. Yang tidak benar itu bagian ini dan ini.”

Ketiga, ini yang paling tidak enak. Kita dibicarakan orang lain, tetapi apa yang dia bicarakan sama sekali bukan kebenaran, alias ngarang alias fitnah. “Betulan lho dia bilang kalau kamu itu orangnya begini, begini, begini.”

Yang ketiga ini yang pasti membuat kita down dan stress plus marah. Lalu apa yang harus kita lakukan kalau difitnah? Marah wajar, hanya saja jangan sampai mengeruhkan suasana. Coba tetap kuasai diri dan bertahan mendengarkan berita itu sampai akhir (jangan sepotong-sepotong saja). Setelah itu, kepada orang yang menyampaikan kabar itu, kita jawab dengan tegas, “Apa yang kamu dengar dari dia tadi, itu semua tidak benar. Aku akan mengakui kalau aku manusia biasa. Artinya aku berani mengakui kalau memang aku salah atau buruk, tetapi soal apa yang baru saja kamu sampaikan tadi, sama sekali semuanya itu tidak benar.”

Langkah selanjutnya, jangan takut untuk konfirmasi berita tersebut, setidaknya kita cegah jangan sampai berita itu menyebar cepat. Caranya mudah sekali, kita temui orang yang telah menyebar berita tersebut. Baiknya memang ada teman yang jadi saksinya, yakni orang yang tadi memberikan kabar tersebut.

Satu catatannya, kita hanya konfirmasi apakah memang dia berkata seperti itu? Bukan untuk marah-marah atau malah mengajak berkelahi. Kalau dia mengakui telah berkata seperti itu, kita sampaikan bahwa apa yang dikatakannya itu tidak benar. Bisa jadi dia mendapat data atau kabar yang salah, atau memang dia sendiri yang memberikan penafsiran keliru atas sebuah kabar. Kewajiban kita meluruskannya.

Paling repot kalau dia punya saksi dan data, maka kita pun harus menghadirkan saksi dan data. Supaya pembicaraan tetap objektif, tidak membuat masalah baru. Tapi biasanya kalau sudah sampai proses ini, banyak orang yang malas melakukannya. Kenapa? Biasanya fitnah itu hanya menyerang nama baik, tidak sampai merugikan harta benda. Orang berpikir, “Ah, biarkan saja satu sampai tiga bulan nanti orang-orang sudah lupa.”

Nah, biasanya kita akan berreaksi kalau kabar burung itu bisa merugikan kita. Misalkan gara-gara kabar itu, bisnis atau pekerjaan kita jadi terganggu. Atau ada proyek yang dibatalkan sepihak lantaran klien mendengar kabar buruk tentang kita. Kalau sudah seperti itu memang butuh konfirmasi sampai semuanya clear. Meskipun proyek lepas, setidaknya kita masih bisa menjaga silaturahmi dan nama baik tetap terjaga.   

[] Oleh Dwi Suwiknyo.

Komentar